Gagal Juara Proliga Bandung BJB Malah Bersyukur, Ini Alasannya

Tim Bandung BJB Pakuan

Rasa syukur tak henti-hentinya diungkap oleh tim voli putri Bandung Bank BJB Pakuan setelah gagal meraih gelar juara Proliga 2018.

Bandung Bank BJB Pakuan gagal naik ke podium kampiun setelah dikalahkan tim Jakarta Pertamina Energi (JPE) dengan skor 0-3 (20-25, 18-25, 17-25) pada laga final yang berlangsung di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (15/4/2018).

Namun, alih-alih bersedih atau menyesali hasil tersebut, manajemen tim justru bersyukur. Meski terkesan aneh, tetapi Direktur Utama Bank BJB, Ahmad Irfan, menganggap pencapaian skuat yang disponsorinya itu sudah optimal.

Apalagi, tahun lalu, Bandung Bank BJB Pakuan gagal menembus babak final.

"Hari ini, alhamdulillah patut bersyukur dengan kerja keras teman-teman. Tim voli BJB Pakuan ini bisa tembus ke semifinal, bahkan jadi runner-up," ujar Ahmad.

"Enggak (sedih). Tahun 2017 kami gagal (masuk final) dan 2018 kami jadi runner-up," kata Ahmad melanjutkan.

Senada dengan reaksi Ahmad Irfan, Pembina Bandung Bank BJB Pakuan, Nety Prasetiyani Heryawan, juga mensyukuri hasil pertandingan laga final tersebut.

"Tentu saja kami semua patut bersyukur dengan hasil pertandingan kali ini. Alhamdulillah sudah melampaui capaian 2017 yang lalu. 2017 nggak masuk final four hari ini justru masuk grand final," ujar Nety.

Lebih lanjut, istri Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, tersebut, tidak menampik bahwa cedera yang menghantam sejumlah pemain BJB Pakuan menjadi salah satu faktor tim tampil kurang maksimal.

"Tentu saja ini sebuah quantum leap. Para pemain juga masih mengalami cedera, tetapi daya juang mereka sampai titik akhir menujukkan mereka adalah pemain dengan mental yang bagus," kata Nety.

Cedera memang menjadi momok tersendiri bagi tim voliandalan Kota Bandung tersebut.

Sang kapten, Wilda Siti Nurfadilah, serta Aprilia Manganang dan Shella Bernadheta pun sempat mengalami cedera dan beberapa kali hanya menjadi penghias bangku cadangan.

Aprilia Manganang bahkan benar-benar absen pada Final Four yang berlangsung di Kota Surakarta, Jawa Barat.

Dia baru comeback sepenuhnya pada Grand Final Proliga 2018yang berlangsung di Yogyakarta.

"Nanti kami atur lagi strategi tahun depan bagaimana bisa merebut gelar juara satu," kata Ahmad Irfan optimistis.

Sumber : bolasport.com

Peringati Hari Kartini, Mabes TNI Adakan Turnamen Bola Voli Kartini Cup 2018

Turnamen Kartini Cup Yang rutin dilaksanakan Mabes TNI
Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2018 yang jatuh pada tanggal 21 April, Markas Besar (Mabes) TNI menggelar pertandingan Bola Voli Putri Kartini Cup XVIII tahun 2018, yang diselenggarakan oleh Persatuan Bola Voli (PBV) TNI.
Pertandingan Bola Voli Kartini Cup XVIII Tahun 2018 di buka secara resmi oleh Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Panglima TNI Marsda TNI Bonar H. Hutagaol selaku Ketua PBV TNI, bertempat di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (17/4/2018).
Dalam sambutannya, Askomlek Panglima TNI mengatakan bahwa dalam rangka terus menggelorakan semangat emansipasi wanita dan memperingati Hari Kartini, Persatuan Bola Voli TNI menyelenggarakan pertandingan Bola Voli Putri Kartini Cup XVIII Tahun 2018
Lebih lanjut Askomlek Panglima TNI menjelaskan bahwa penyelenggaraan pertandingan Bola Voli Kartini Cup yang dilaksanakan setiap tahun, diharapkan tiap-tiap angkatan dapat membina para atletnya dengan baik melalui program-program latihan yang terstruktur dan terencana.

“Diharapkan kemampuan para atlet meningkat, stamina terjaga, bermental juara yang terbentuk pada pribadi masing-masing atlet, dan siap menghadapi event-event yang lebih besar di tingkat Nasional,” ujarnya.
“Melalui penyelenggaraan pertandingan Bola Voli Putri Kartini Cup Tahun 2018, diharapkan semangat perjuangan R.A. Kartini dapat terus ditanamkan dan digelorakan pada seluruh kaum wanita, terutama anggota Wanita TNI, PNS putri dan Ibu-ibu istri prajurit,” sambung Marsda TNI Bonar H. Hutagaol.
Di sisi lain, Askomlek Panglima TNI Marsda TNI Bonar H. Hutagaol menyampaikan bahwa R.A. Kartini telah berhasil menggelorakan gagasan kemanusiaan bukan saja bagi kaum wanita, tetapi juga turut menginspirasi kaum pria yang secara universal untuk duduk secara seimbang dan setara dalam berbagai hal, khususnya dalam mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan jaman.
“Ibu kita Kartini telah menanamkan semangat juang kaum wanita Indonesia, sehingga apa yang beliau perjuangkan mampu mewujudkan kesetaraan gender di Bumi Pertiwi. Beliau dikenal sebagai Pelopor Kebangkitan Wanita di Indonesia,” ungkap Marsda TNI Bonar H. Hutagaol.
Mengakhiri amanatnya, Marsda TNI Bonar H. Hutagaol selaku Ketua PBV TNI berpesan agar seluruh peserta selalu menjunjung tinggi sportivitas dan menunjukkan permainan yang terbaik sesuai tema Hari Kartini Tahun 2018 “Dengan Meneladani Semangat Kartini Kita Wujudkan Sportifitas Menuju Prestasi Gemilang”.
“Kepada Panitia Penyelenggara, para Wasit dan seluruh pendukung, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya, sehingga pertandingan dapat berjalan dengan tertib,” tutup Marsda TNI Bonar H. Hutagaol.
Pertandingan Bola Voli Kartini Cup XVIII Tahun 2018 yang dilaksanakan mulai tanggal 17 s.d. 19 April 2018, diikuti oleh Wanita TNI dari Mabes TNI, TNI AD, TNI AL dan TNI AU serta Tim Gabungan (PNS Putri dan Istri Prajurit TNI) dari Kemhan, Mabes TNI, TNI AD, TNI AL dan TNI AU.

Sumber : lensaindonesia.com

Nizar Zulfikar Dan Yuda Mardiansyah Diharapkan Jadi Pembeda Di Tim Nasional Voli

Nizar Zulfikar dan Yuda Mardiasyah
Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) mematok target meraih perunggu pada ajang Asian Games 2018 mendatang. Capaian ini cukup realistis melihat peta kekuatan lawan yang cukup berat.
Ketua Umum PBVSI Imam Sudjarwo mengatakan, lawan-lawan seperti Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok bakal menjadi batu sandungan bagi Merah Putih.
Menengok sejenak ke SEA Games 2017 lalu, tim voli putra dan putri Indonesia juga hanya sanggup meraih medali perak setelah keduanya sama-sama dipecundangi raksasa voli Asia Tenggara,Thailand. 
"Dari evaluasi dan koordinasi, target meraih perunggu atau juara tiga di grup putra dan putri itu cukup realistis," katanya di GOR Amongrogo Jogjakarta, usai penutupan ajang Proliga 2018, Minggu (15/4).
Melihat potensi para pemain yang ikut dalam Proliga 2018 yang cukup memuaskan, Imam yakin mereka bisa merealisasikan target itu.
Para pemain yang masuk tim nasional voli akan mulai pemusatan latihan pada bulan Mei mendatang. "Termasuk juga voli pantai. Khusus cabang olahraga ini, kami target emas," ucapnya.
Sementara itu, Pelatih Tim Nasional Putra Samsul Jais menambahkan bahwa kerangka timnas voli untuk Asian Games 2018 sudah terbentuk. Ia juga sudah mengantongi 14 nama yang diambil dari beberapa tim di ajang Proliga 2018.
Setelah para pemain timnas dipanggil, Jais menuturkan, ia berencana untuk melakukan training camp, dilanjutkan uji coba melawan tim dari negara-negara lain.
Pelatih tim voli putra Samsul Jais menyatakan, 18 pemain yang dipanggil untuk multievent terbesar se-Asia itu memiliki kualitas materi lebih bagus daripada tahun lalu, terutama pada sektor setter dan quicker. Masuknya Nizar Julfikar dan Yuda Mardiansyah membuat warna baru bagi skuad Merah Putih.
Samsul menilai, buruknya prestasi di SEA Games 2017 karena kehilangan sosok Nizar sebagai setter, alias pengatur serangan. Nizar kala itu tidak beegabung karena sedang menjalani pendidikan Sekolah Inspektur Kepolisian Sumber Sarjana.
Padahal, pemain 23 tahun itu menyabet best setter Proliga 2017 dengan catatan 446 kali memberikan umpan 393 di antaranya sukses menghasilkan spike.
”Nizar punya kualitas. Bola-bola cepat dan pelepasan open bagus. Dan juga usianya masih muda,” ungkap pelatih yang pernah membela timnas voli era 1989 hingga 1998 itu.
Sementara, Yuda disebut Jais merupakan quicker terbaik yang ada di dalam skuad. Selain membawa Samator juara Proliga 2018 dan Livoli 2017, pemain kelahiran Medan itu merupakan quicker terbaik sekaligus pemain muda terbaik Livoli 2017.
”Nilai plusnya, dia memiliki kemampuan kill blok dan pembacaan serangan lawan yang tidak pemain lain miliki,” terangnya.
Dengan adanya Nizar dan Yuda di badan tim, Jais yakin timnya bisa masuk babak delapan besar Asian Games 2018.
Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Iran, dan beberapa negara pecahan Uni Soviet disebutnya bakal menjadi pesaing kuat. Meski begitu, pelatih asal Palembang tersebut optimistis bisa menampilkan yang terbaik. (han)

Profil Nandita Ayu Dan Cita-Citanya Membawa Voli Indonesia Lebih Mendunia

Nandita Ayu Salsabila, MVP Proliga 2018 Putri
x
Atlet klub bola voli Proliga Jakarta Pertamina Energi, Nandita Ayu Salsabila, masih banyak memiliki mimpi di dunia voli. Pemain terbaik atau most valuable player (MVP) Proliga 2018 itu ingin Timnas Indonesia berbicara lebih banyak di kancah dunia. 
Ayu telah membela Timnas Indonesia sejak 2012 silam. Ia ikut mengantarkan Indonesia meraih medali perunggu di dua SEA Games, yakni pada 2013 dan 2015. Di SEA Games 2017 Malaysia lalu, ia membawa Indonesia meraih perak. 
"Kalau dari segi prestasi, target yang diinginkan itu SEA Games. Inginnya kasih emas buat Indonesia," ujar Ayu.
Ayu juga banyak berharap di Asian Games 2018 mendatang. Ia menyadari bahwa persaingan di tingkat Asia jauh lebih berat dibanding Asia Tenggara. Meski begitu, ia mengatakan peluang Indonesia masih terbuka. Wanita berumur 20 tahun itu pun masih optimistis Indonesia dapat berbicara banyak di Asian Games 2018. 

Ia berharap Timnas voli putri Indonesia dapat menembus empat besar Asia. "Korea, Jepang, Thailand juga kan turun semua. Tentunya akan sangat berat. Yang harus disiapkan fisik sama mental. Soal mental kan dari diri sendiri, harus pede dulu di lapangan," kata dia.
Setelah selesainya Proliga 2018 pada Ahad lalu, Ayu akan segera bergabung di Pelatnas Voli di Sentul. Rencananya ia berkumpul kembali pasa 23 April mendatang. Meski begitu, ia mengatakan belum ada persiapan khusus dilakukan untuk menghadapi Asian Games di bulan Agustus mendatang. 
Justru Ayu memperkirakan latihan akan sedikit dikurangi. Pasalnya, pada pertengahan Juni hingga Juli, akan memasuki bulan Ramadan. Dari pengalaman sebelumnya, intensitas latihan biasanya dikurangi sekitar 20-25 persen saat puasa.

"Nanti setelah lebaran hanya libur tiga sampai lima hari. Langsung kemudian dinaikkan latihannya," kata Ayu.

Ayu merupakan MVP di Proliga 2018. Pemain yang berposisi sebagai open spike itu juga membawa klubnya, Jakarta Pertamina Energi, menjadi jawara, setelah menaklukan Bandung Bank BJB Pakuan. Ini merupakan gelar ProLiga ketiga bagi Ayu. Sebelumnya ia menyabet dua gelar secara beruntun saat masih membela Jakarta Popsivo Polwan, pada 2012 dan 2013 silam. 

Kompetisi bola voli Proliga 2018 menjadi panggung sempurna buat Nandita Ayu Salsabila. Ia ikut membawa timnya, Jakarta Pertamina Energi, menjadi juara dengan mengalahkan Bandung Bank BJB Pakuan di final yang berlangsung di GOR Amongraga, 15 April 2018 lalu. Seusai final, ia juga dinobatkan sebagai pemain terbaik (most valuable player/MVP) di bagian putri. 

Bakat Ayu di dunia olahraga bukan hal yang mengejutkan. Wanita kelahiran 12 Juli 1997 itu merupakan anak dari dua atlet Indonesia. Ayahnya adalah Sudirman, eks kapten Timnas sepak bola Indonesia. Sedangkan ibunya adalah Tri Wahyuni merupakan pemain Timnas voli Indonesia di eranya. 
Kedekatan dengan dunia olahraga ini yang menjadi pintu bagi Ayu untuk masuk ke dunia voli. "Awalnya lihat mama main voli. Terus tertarik dan akhirnya ikut latihan. Akhirnya dilatih sama mama langsung dari basic-nya. Itu waktu kelas 2-3 SD," kata Ayu kepada Tempo, Selasa, 17 April 2018. 

Ayu mengatakan tidak mudah untuk terus menjaga semangat berlatih. Apalagi ia memulai sejak kecil. Bahkan ia mengaku sang ibu tak jarang memarahinya karena malas latihan. Berbagai cara pun dilakukan untuk menjaga semangat berlatihnya. 

"Jadi dulu kalau mau latihan itu mau makan apapun diturutin. Abis latihan makan-makan," kata Ayu terkekeh.

Selepas SD, wanita kelahiran Jakarta itu pun melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta Selatan. Dua tahun belajar di sana, ia sudah mampu mengikuti Kejuaraan Nasional dan membela DKI Jakarta. Memasuki kelas 3 SMP, ia menjalani debut bersama klub Proliga pertamanya, Jakarta Popsivo Polwan. 

Berstatus sebagai pemain debutan tak menghentikan kejutan dari Ayu. Ia ikut mengantarkan Jakarta Popsivo Polwan juara Proliga dua tahun berturut-turut, yakni tahun 2012 dan 2013. Pada 2017 ia memutuskan bergabung di Jakarta Pertamina Energi. 

Ia ikut membawa timnya menjadi runner-up di tahun pertamanya di JPE. Di tahun 2018 ini, ia berhasil tampil gemilang dan membawa JPE menjadi juara Proliga 2018. Tak hanya itu, ia berhasil menyabet gelar pemain terbaik atau MVP. 

Pemain yang berposisi sebagai open spike itu mengatakan kunci permainannya di tahun ini adalah ketenangan bermain dan mencoba memberikan permainan terbaik. "Kemarin contohnya saat final sempat deg-degan. Tapi kemudian ingat untuk cuek saja. Yang penting dinikmatin saja permainannya. Ke sininya kan mental bertandingnya naik, jadinya bisa main lepas," kata Ayu.

Penampilan gemilang Ayu juga membuatnya dipanggil oleh Timnas Indonesia untuk Asian Games 2018. Mulai tanggal 23 April mendatang, ia dan atlet lain akan dikumpulkan di Sentul untuk pemusatan latihan.  

"Saya inginnya tembus empat besar dulu di Asian Games 2018," kata Nandita. 

Nandita Ayu Menikah dengan Aji Maulana Setter Bank Sumsel Babel


Di usia yang masih tergolong muda, Ayu juga telah memutuskan untuk menjalin ikatan pernikahan. Pada Oktober 2017 lalu, ia menikah dengan kapten klub Bank SumselBabel, Aji Maulana. Hal ini ikut andil dalam karier gemilang Ayu di dunia voli.

"Suami juga selalu support terus untuk tetap berkarir di voli. Jadi kami saling support lah," kata Ayu.

Ayu telah menjalin hubungan dengan Aji selama empat tahun. Sosok Aji pun ia sebut sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dalam karier volinya. Selain Aji, ibunda Ayu, Tri Wahyuni, adalah sosok lain yang ikut andil mendorong dirinya masuk ke dunia voli. Tri merupakan eks pemain timnas voli Indonesia pada zamannya.

Ayu mengatakan tak ada masalah pembagian waktu antara ia dan suaminya selama menjadi atlet. Keduanya memang harus menjalin hubungan jarak jauh. Ayu tinggal di Jakarta bersama Jakarta Pertamina Energi, dan Aji di Sumatera Selatan.

"Kita kan sama-sama sibuk latihan. Jadi yang penting sih komunikasi, membangun komunikasi. By phone biasanya, kalau sama-sama dapat libur diusahakan ketemu," ujar wanita kelahiran Jakarta, 12 Juli 1997 itu.

Ia pun belum berpikir lebih jauh untuk memiliki anak. Menurut Ayu, baik suami maupun kedua orang tuanya sangat mendukung dirinya untuk melanjutkan karir di dunia voli. "Mama juga bilang nanti dulu (untuk memiliki anak). Kamu main voli dulu aja. Mumpung masih muda. Kariermu masih panjang. Fokus di karier dulu saja," kata Ayu.

Meski begitu, Ayu mengatakan suatu saat dirinya ingin memiliki anak. Saat itu terjadi, akan menandai akhir kariernya sebagai pemain voli, termasuk di Proliga. "Sudah berpikir kalau sudah punya anak, ya nanti berhenti bermain voli. Kalau misal sudah ga berkarir lagi di voli, ya jadi ibu rumah tangga saja," kata Ayu.

Biodata 
Nama : Nandita Ayu Salsabila
Tempat Lahir : Jakarta 
Tanggal Lahir : 12 Juli 1997
Ayah : Sudirman
Ibu : Tri Wahyuni
Saudara : Tasya Aprilia Putri, Rizky M Sudirman
Prestasi 
Juara Proliga 2012 dan 2013 (Jakarta Popsovo Polwan)
Medali Perunggu di SEA Games 2013 di Myanmar
Medali Perunggu di SEA Games 2015 di Singapura 
Medali Perak di SEA Games 2017 di Malaysia 
Runner up Proliga2017 (Jakarta Pertamina Energi) 
Juara Proliga 2018 (Jakarta Pertamina Energi) 
MVP Proliga 2018.

Sumber : tempo.co

PROFIL NURLAILI KUSUMAH DININGRAT, BINTANG MASA DEPAN INDONESIA

Nurlaili Kusumah Diningrat, Bintang masa Depan Timnas Indonesia


Nurlaili Kusumah Diningrat menjadi salah satu pemain yang menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, di usianya yang masih 14 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMP, Nurlaili mampu menembus tim utama Jakarta BNI Taplus setelah sebelumnya salah satu pemain asing BNI Karina Ocasio, asal Puerto Riko cedera.

Di usianya yang masih sangat belia, Nurlalili mampu menjadi tumuan serangan tim Jakarta BNI Taplus, ia tak canggung ketika bermain dengan para pemain yang sudah kenyang pengalaman seperti Yolla Yuliana, Tri Retno Mutiara, dan lainnya. Nurlalili juga tak gentar ketika berhadapan dengan para pemain asing yang memiliki tinggi badan jauh diatasnya, padahal tinggi nurlaili hanya 169 cm. Berkat tangan dingin pelatih Risco Herlambang, Nurlaili menjelma menjadi salah satu calon bintang masa depan Indonesia.

Terlahir dari pasangan Dandan Gunadi dan Irawati di Bandung tahun 2003, Nurlaili awalnya terjun ke dunia voli atas kemauannya sendiri. Ia mengaku awalnya diminta oleh guru olahraganya untuk mengikuti ekstra kulikuler bola voli di sekolah lain. Lalu melihat bakat yang dimiliknya akhirnya sang guru pun memintanya untuk masuk klub pembinaan khusus bola voli agar bakatnya lebih terasah dan terarah.

Awalnya Nurlaili berlatih di klub Parahiyangan bandung, karena dari awal dirinya tidak bisa fokus latihan akhirnya ia memutuskan untuk pindah klub ke Wahana Express Bandung, Nurlalili pun harus rela pindah sekolah agar dekat dengan klubnya Wahana. Saat memutuskan hengkang ke Wahana, Lalili hanya berlatih biasa di rumah.

Nurlaili saat melakukan Smash
Keputususannya untuk pindah ke Wahana terbilang tepat, di tangan Risco Herlambang, bakat Nurlaili semakin terasah. “latihan di wahana sangat berat sekali, sempet ngeluh juga, soalnya latihannya full dari senin sampe sabtu, pas awal-awal masuk sempet sakit karena belum terbiasa latihan keras, ga sampe pingsan sih paling sesek nafas sama lemes banget kalo udah latihan, tapi ini udah jadi pilihan aku dan harus dipaksain kalo mau jadi pemain bagus” Ujar Nurlalili kepada Volinesia.

Gemblengan keras dari pelatih akhirnya membuahkan hasil manis. Di tahun 2018 ini, Nurlaili akhirnya bisa mencicipi ketatnya persaingan proliga 2018. Ia mengaku sangat senang bisa bermain bersama dan melawan para idolanya yang dulu hanya ia bisa saksikan di layar kaca. “Rasanya seneng banget dan antara percaya gak percaya, Alhamdulillah gak sia-sia latihan berat yang selama ini aku jalanin akhirnya bisa tercapai cita-cita buat maen di proliga dan maen sama idola-idola aku” ujarnya.

Di Wahana juga Laili lebih mendalami posisi open spiker, awalnya di posisi manapun dirinya bisa bermain, namun saat pindah ke Wahana ia lebih diarahkan oleh pelatih untuk menjadi seorang open spiker. Nurlaili berharap kariernya bisa berjalan lancar. “kalo main voli semoga aja sampe seterusnya dan jangan sampe ngalamin cedera parah atau kenapa” saat ditanya sampai kapan dirinya akan bermain voli nanti.

Mengikuti ajang proliga yang memakan waktu panjang tentu bisa mengganggu sekolah, namun Nurlaili mengaku dirinya tidak terganggu dan masih bisa mendapat dispensasi dari pihak sekolah untuk fokus di ajang Proliga.

Saat ditanya targetnya kedepan, Laili mengaku masih harus terus belajar dan memperbaiki kekurangannya. Ia juga berharap di tahun-tahun kedepannya masih bisa mengikuti ajang proliga dan menjadi juara agar suatu hari nanti bisa memperkuat Timnas untuk berlaga di event Internasional.

Selain bermain bola voli, Laili mengaku hobi mendengarkan musik, dan makan. Iapun mengaku bahwa menyukai jengkol dan pete. Ia mengaku tidak pernah mengikuti turnamen tarkam karena sang pelatih melarangnya. Hal itu dikarenakan resiko mengikuti tarkam sangat besar dan tidak ada jaminan seperti bermain di turnamen profesional.

Banyak yang menyebut nurlaili sebagai calon open spiker masa depan pengganti Aprillia Manganang kelak. Laili pun berujar bahwa dirinya masih perlu banyak belajar agar bisa selevel dengan Aprillia.

Nurlaili Kusumah Diningrat
Biodata Nurlaili Kusuma Diningrat :
Nama Lengkap : Nurlaili Kusuma Diningrat
Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 23 November 2003
Ayah   : Dandan Gunadi
Ibu      : Irawati
Saudara : Ade Dwi Andhyka Prasetya (Adik)
Klub :
-       Wahana Express Group (Amatir)
-       Jakarta BNI Taplus (Profesional)


Profil Ratri Wulandari, Open Spiker Masa Depan Indonesia

Ratri Wulandari 
Jawa Barat seakan tidak pernah kehabisan stok pemain bola voli putri berkualitas. Setelah era Siti Nurjanah dan Ade Maya lalu diteruskan dengan era Yolla Yuliana dan Wilda Siti Nurfadillah. Kini belum habis masa keemasan Yolla Yuliana Dkk, telah muncul kembali bibit-bibit potensial yang siap memberikan jaminan kekuatan di masa depan untuk tim Jawa Barat. Sebut saja Tri Retno Mutiara yang telah lebih dulu menjadi rissing star, dan kini ada dua nama asal jawa barat yang diprediksi akan menjadi bomber masa depan timnas bola voli Indonesia. Mereka adalah Nurlaili Kusuma Diningrat dan Ratri Wulandari.
Nama Terakhir, Ratri Wulandari kini menjadi pelapis dari bomber andalan Bandung Bank BJB Aprillia Manganang. Ratri yang sejak tahun lalu menjadi punggawa BJB memiliki segala kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang open spiker. Memiliki pukulan keras dan jump serve menukik, ia juga memiliki lompatan yang tinggi dengan postur badannya 177cm. Bahkan, pada ajang kejurnas junior tahun lalu, Ratri menjadi pemain terbaik dan membawa JWS Minahasa juara di Yogyakarta.
Ratri Wulandari lahir di Karawang 8 mei 2002 dari pasangan Parwadi dan Murningsih. Ratri memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Dian Purwaningtyas. Ia sudah mulai menggeluti dunia voli dari sejak masa kanak-kanak.
Awal mula Ratri terjun ke dunia voli adalah karena dorongan orangtuanya. “Awalnya sih aku disuruh orangtua ikut voli karena dulu kaka aku badannya gemuk jadi aku disuruh ikut dengan kakak untuk berlatih voli, aku sih mau ikut-ikut saja pas TK dan kesininya aku jadi jatuh cinta dengan voli” ujar Ratri kepada volinesia.
Pada usia 14 tahun Ratri sudah mulai ikut Proliga bersama Bandung Bank BJB. Saat itu dirinya yang masih sangat muda mendapatkan banyak pengalaman berharga dari para seniornya di BJB. Sehingga pada ajang kejurnas junior tahun 2017 di Yogyakarta, Ratri mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik turnamen tersebut.
Untuk mencapai level proliga seperti sekarang ini Banyak suka duka yang ia lalui. Hal yang membuat dirinya tetap betah menggeluti dunia voli adalah karena dengan olahraga voli dirinya bisa menambah banyak teman, pengalaman dan prestasi serta dapat membanggakan kedua orangtuanya. Namun rasa bosan dan jenuh terkadang menghinggapi dirinya. Rutinitas latihan yang berat dan monoton kadang membuatnya lelah.


ratri wulandari
Ratri Wulandari melakukan smash saat memperkuat Bandung BJB Di Ajang Proliga

“ Sukanya si aku ktemu bnyk tmen, bnyak pengalaman, dapet piagam, klo juara ada kepuasan apalagi klo ada uang sakunya haha. Dukanya ya kadang pasti suka ada rasa jenuh bosen latian mulu ngga ada hasilnya capek juga kan harus latian fisik rasanya berat, latian bola sampe malem besoknya sekolah pagi rasanya pengen berenti aja tapi udah tanggung” ujar Ratri.
Pada ajang PON 2016 di Jawa Barat Ratri belum bisa memperkuat tanah kelahirannya Jawa Barat, hal ini karena masih banyaknya para seniornya yang memperkuat jabar. Sebut saja Amalia Fajrina, Legisya Nurasia. Ia Bertekad pada ajang PON mendatang agar bisa memperkuat tanah kelahirannya.
Saat ditanya apakah dirinya sering ikut turnamen tarkam, Ratri menjawab tidak pernah karena dilarang oleh sang pelatih. Ia mengatakan bahwa pelatih hanya membolehkan ikut jika diambil dalam satu paket tim.
Harapan kedepannya Ratri ingin bisa memperkuat tim nasional Indonesia. Ratri juga ingin bisa mengikuti kejuaraan bertaraf nasional dan Internasional untuk menambah pengalaman serta bisa membanggakan kedua orangtuanya. Selain bermain voli, Ratri juga hobi berburu kuliner, jalan-jalan dan bernyanyi serta joged. Saat ini ia masih bersekolah di Sekolah Menengah Atas kelas 10 di SMAN 27 Bandung.
Profil Ratri Wulandari :
Nama Lengkap : Ratri Wulandari
Tempat Tanggal Lahir : Karawang 8 mei 2002
Orangtua : Parwadi (Ayah) dan Murningsih (Ibu)
Saudara : Dian Purwaningtyas (Kakak)
Sekolah : SMAN 27 Bandung Kelas X
Klub :
  • Amatir (JWS Minahasa)
  • Profesional (Bandung Bank BJB)
Prestasi :
  • Pemain Terbaik Ramadhan cup KU-99 th 2017
  • Kejurnas Junior Antar Klub U17 Tahun 2017

28 ATLET BOLA VOLI KABUPATEN NUNUKAN YANG DITANGKAP MALAYSIA AKAN DIDEPORTASI

Sebanyak 28 atlet bola voli dari Kabupaten Nunukan yang ditangkap aparat Marine Malaysia karena memasuki Malaysia tanpa kelengkapan dokumen paspor. Keberangkatan mereka ke Malaysia untuk memenuhi undangan pertandingan persahabatan bola voli di Kota Kinabalu, Malaysia.(Foto dokumen Konsulat RI Tawau Malaysia)

Sebanyak 28 atlet bola voli dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang ditangkap aparat Marine Malaysia karena memasuki negara tersebut tanpa dokumen paspor pada Kamis (15/3/2018) akan dideportasi kembali ke Indonesia. 

Staf Penerangan Konsulat RI di Tawau, Malaysia, Firma Agustin, mengatakan, keputusan deportasi kepada 28 WNI yang diamankan aparat diketahui melalui putusan pengadilan yang digelar pada Jumat (23/3/2018). “Putusan mahkamah hukumannya deportasi dan otomatis kalau sudah dideportasi akan di-blacklist masuk Sabah,” ujar Firma, Sabtu (24/3/2018). 

Meski para atlet tersebut dipastikan akan dideportasi dari Malaysia melalui Pelabuhan Tunontaka, Nunukan, tetapi Konsulat RI di Tawau belum bisa memastikan kapan ke-28 WNI asal Nunukan itu akan dipulangkan. Pemulangan itu dilakukan bila sudah ada keputusan dari pihak Imigrasi Malaysia. 

”KRI akan bantu penerbitan SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) supaya mereka bisa dideportasi secepatnya,” imbuh Firma. Sebelumnya diberitakan, 28 atlet bola voli dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, ditahan oleh aparat Marine Malaysia, Kamis (15/3/2018), saat berada di perairan Kota Kalabakan, Malaysia, karena memasuki Malaysia tanpa dokumen. 

Keberangkatan mereka ke Malaysia sebagai kunjungan balasan. Sebab, sebelumnya tim bola voli dari suku Tidung di Kota Kinabalu telah berkunjung ke Nunukan dengan menggelar pertandingan persahabatan. Pertandingan bola voli yang diadakan oleh sesama kerabat suku Tidung baik dari Malaysia maupun Indonesia itu merupakan kegiatan rutin yang diadakan dalam rangka mempererat tali silaturahim.

Sumber ; Kompas.com