INILAH BEBERAPA HAL YANG HARUS DIKETAHUI BILA INGIN JADI ANGGOTA KLUB SAMATOR

Pelatih Samator Ibarsyah Djanu mensyaratkan beberapa hal untuk bisa menjadi pemain samator
Surabaya Bhayangkara Samator merupakan salah satu tim bola voli putra yang disegani di Indonesia. Samator menjuarai Proliga pada edisi 2004, 2007, 2009, 2014, dan 2016.

Samator juga dikenal sebagai penghasil pemain yang kerap terpilih masuk dalam tim nasional (timnas) sejak berdiri pada 1992. Sejumlah nama besar yang pernah masuk timnas cukup disegani di kalangan voli nasional hingga Asia Tenggara.

Sebut saja Joni Sugiyatno, Ayip Rizal, Affan Priyo Wicaksono, Aris Rizqon, Didi Irwandi, Fadlan Abdul Karim, Bagus Wahyu, Velg Dani, dan banyak lagi.

Mulai Juni 2016, Samator menjalin kerjasama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk lima tahun mendatang. Kolaborasi ini meliputi pencarian bakat, pembinaan atlet, dan sarana pendukung lainnya.

"Kerjasama ini memberi keuntungan bagi kami. Semakin banyak orang yang ingin mendaftar masuk Samator, apalagi melihat prestasi yang ditorehkan," kata pelatih Samator, Ibarsjah Djanu Tjahjono kepada JUARA di Hotel Balava, Malang.

Peminat Samator ini tidak datang dari pulau Jawa saja, tetapi juga dari Sulawesi dan Kalimantan.

"Daerah yang memiliki pemain voli berpotensi adalah adalah Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan," aku Ibarsjah.


"Selain punya kemampuan bagus, calon pemain juga harus memiliki tinggi badan minimal 190 sentimeter (cm). Tujuannya, untuk menunjang karier jika akan mengikuti kompetisi internasional," ujar pria yang pernah menjadi pelatih timnas ini.
1 2 3

SURABAYA SAMATOR BERBAGI ILMU DI BATAM

Para pemain dan pelatih samator sedang melakukan pelatihan kepada 100 siswa di batam : jawapos.com
Juara putara pertama Proliga 2017, Surabaya Bhayangkara Samator, menyempatkan diri untuk berbagi tips dan cara bermain bola voli dengan baik dan benar dalam kegiatancoaching clinic di Batam.
Coaching clinic bola voli yang bertempat di Gor Raja Jakfar ini diperuntukkan bagi siswa-siswi SMA/SMK negeri dan swasta se-Batam yan memiliki minat dan prestasi di bidang olahraga voli.
Pelatih Samator, Ibarsjah Djanu Tjahjono langsung turun tangan memberikancoaching clinic berupa teori dan praktik dengan ditemani tujuh pemain Samator. Tujuh pemain ini adalah, Ibnu Qurniadi, Galih Bayu, Samsul Kohar, Henry Ade, Yoga Tegar, Anang Sugiarto, dan Hadi Suharto.
"Selain berkonsentrasi pada Proliga, kami juga ingin berbagi ilmu kepada generasi atlet muda voli di Batam agar dapat memahami cara bermain voli secara profesional," ujar Ibarsjah kepada Batam Pos (Jawa Pos Group).
Coaching clinic ini terdiri dari tiga bagian, yaitu pemberian teori, latihan praktek dan games. "Selain sebagai kegiatan sosial kami, kegiatan ini juga menjadi ajan pencarian bakat talenta muda yang dapat direkrut langsung oleh kami," kata Manajer Samator, Hadi Sampurno.
Sambung Ibarsjah, teknik dasar yang harus dikuasai atlet voli adalah passing, servis, blok dan spike. "Passing adalah salah satu teknik dasar dari bermain bola voli yang sangat penting dan wajib dikuasai pertama kali," imbuh Ibarsjah.
Ibarsjah mengatakan, walaupun pemain mempunyai teknik spike yang baik tetapi jika tidak mempunyai skill dalam melakukan passing, hal itu akan menjadi celah bagi lawan untuk mematikan permainan tim.
"Semua teknik dasar dalam bermain bola voli wajib dipelajari bila ingin menjadi pemain profesional sehingga dapat menguasai permainan saat bertanding," katanya
Memberikan bola kepada teman sendiri dalam satu tim dengan teknik tertentu untuk merancang strategi penyerangan, itu merupakan definisi dari passing.
"Dalam permainan bola voli membutuhkan teknik passing yang tepat dan akurat, sehingga bola dapat diarahkan ke pemain selanjutnya untuk melakukan proses penyerangan tim lawan," urai Pelatih Timnas Bola Voli Putra Indonesia di SEA Games 2015 itu.
Lanjutnya, untuk teknik dasar passing bawah biasanya dilakukan saat menerima bola pertama atau meneriman spike dan servis dari pihak lawan. Saat melakukan passing bawah, bisa mengunakan satu tangan dan dua tangan.
"Teknik passing memang membosankan, tapi teknik passing merupakan nyawa dari para pemain untuk bermain bagus," tuturnya.
Ibarsjah berrharap, pemain muda yang mendapatkan coaching clinic dapat menerapkan teknik dasar bola voli di sekolah maupun saat bertanding. "Pemain profesional harus belajar dari dasar dulu, baru mereka naik menjadi pemain profesional sehingga berprestasi di nasional dan internasional," lanjutnya.
Tampak sekitar 100 peserta yang mengikuti coaching clinic ini antusias menyimak dan memperhatikan betul cara Ibarsjah saat memberikan arahan dan penjelasannya. 
Salah satu siswa SMAN 4 Batam yang mengikuti kegiatan ini, Rifki sangat bersemangat mengikuti coaching clinic yang diberikan pelatih dan pemain Samator tersebut. "Senang sekali bisa langsung mendapat arahan dari pelatih sekelas beliau," ujarnya.
Rifki juga merasa, cara pelatih Ibarsjah memberikan arahan dan penjelasannya sangat mudah dimengerti. "Sangat mudah dipahami dan tak jarang beliau juga memberikan guyonan segar agar kami tidak stres," paparnya lagi.
Siswa yang memiliki tinggi 175 cm itu akan mencoba menerapkan teknik dasar bola voli di sekolahnya yang sudah ia terima dari coaching clinic ini.
"Saya berharap, pelatihan ini bisa rutin dilakukan oleh klub dan pelatih profesional tingkat nasional," tutup siswa kelas 11 yang bercita-cita menjadi pemain voli profesional ini.

jawapos.com

MENGAPA PROLIGA TIDAK TAYANG DI TV ????

Timnas Indonesia saat melawan Polandia tahun 2008, Saat itu Timnas Indonesia menduduki peringkat 6 asia, dan berhak mengikuti kualifikasi Olimpiade 2010, (sumber : Fivb.org : Gety Image)


Gelaran Proliga 2017 sudah menyelesaikan putaran pertama yang berlangsung di Malang, Palembang dan Batam. Namun ingar ingar Proliga 2017 terasa tidak ada gaungnya dan terkesan sepi pemberitaan.

Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan dari para pecinta bola voli tanah air. Banyak yang menanyakan mengapa ajang bergengsi sekelas proliga tidak ada stasiun televisi swasta yang mau menayangkannya..???

Memang jika kita tarik ke satu dekade yang lalu, tepatnya ketika proliga masih disponsori oleh Perusahaan rokok ternama yaitu Sampoerna Hijau, gelaran proliga sangat semarak sekali terasa. Bahkan banyak terobosan yang dilakukan oleh Sampoerna guna menambah semarak kompetisi yang saban Minggu ditayangkan di stasiun tv One yang dulu bernama Lativi.

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh Sampoerna hijau ialah dengan mengadakan AllStar perang bintang yang mempertemukan pemain-pemain terbaik dari tiap tim serta pelatih terbaik yang menukangi kedua tim Allstar tersebut. Biasanya perang bintang dilaksanakan di paruh musim kompetisi ataupun menjelang final four.

Tidak hanya perang bintang, proliga juga gencar beriklan di berbagai media elektronik dan media cetak, tentu kita masih ingat dengan tagline : “gila voli” dengan banyak iklan nyeleneh khas Sampoerna Hijau.

Salah satu iklan yang penulis masih ingat ialah ketika ada mobil bak berisi durian yang melewati polisi tidur dan duriannya terjatuh, lalu ada sekelompok anak muda yang mencoba menahan durian dengan gaya pasang khas voli. Dan diakhir iklan si pemuda tersebut masuk rumah sakit dan dijenguk oleh pacarnya.

Betapa kangennya insan voli nasional dengan tayangan-tayangan voli di televisi. Yang menambah ketat bobot kompetisi serta menghasilkan tim nasional yang sangat tangguh kala itu. Kita masih ingat dengan raihan dua emas beruntun yang dipersembahkan oleh Joni Sugiatno dan kawan-kawan pada medio 2007 dan 2009.

Terobosan lain yang dilakukan Sampoerna hijau adalah dengan mengadakan turnamen – turnamen kecil yang diadakan di beberapa kota. Tujuan turnamen ini adalah untuk mencari talenta-talenta muda yang terserak di kampung-kampung yang tidak terdeteksi oleh klub.

Penulis masih mengingat dengan jelas saat tahun 2006 ketika final proliga dilaksanakan di Istora Senayan. Saat itu penonton penuh sesak sampai banyak yang tidak kebagian masuk. Bahkan di layar kaca tv pun yang saat itu ditayangkan oleh Lativi mencapai ranting tertinggi. Meskipun saat itu tayang dalam durasi panjang.

Banyak anak-anak yang transpirasi oleh tayangan di televisi saat itu. Sehingga tiap sore hari di kampung-kampung selalu terlihat anak-anak remaja bermain voli. Tagline “gila Voli” memang ampuh untuk membangkitkan gairah voli di masyarakat saat itu.

Hampir lolos olimpiade
Semaraknya kompetisi yang luar biasa tersebut berimbas positif pada perkembangan timnas. Tentu kita masih ingat ketika Indonesia berhasil menduduki peringkat 6 Asia dalam kejuaraan bola voli Asia. Bahkan saat itu Joni Sugiatno sempat bisa lolos ke putaran 3 kualifikasi olimpiade 2008. Saat itu Indonesia berada satu grup dengan Portugal, Polandia, dan Puerto Rico.
Aksi Jhoni Sugianto saat melawan Bartosz Kurek cs (FIVB.org : gety images)

 Meskipun Timnas tidak mengantongi satu kemenanganpun, namun Joni dan kawan-kawan bisa memberikan perlawanan sengit dengan skor yang tidak terlalu jauh. INA vs POR (23-25, 17-25, 21-25). INA VS POL ( 20-25, 17-25, 23-25), PUERT VS INA ( 21-25, 19-25, 24-26). Hal itu tidak mengherankan mengingat tinggi badan para pemain Indonesia yang rata-rata hanya 185 cm, sedangkan tim lawan memiliki rata-rata postur 200 cm. Apalagi saat itu Polandia diisi pemain tebak dunia yaitu Bartosz Kurek yang masih belia.

Saat itu Joni Sugiatno mendapatkan banyak pujian dengan smash-smash quicknya yang sulit dibendung bloker lawan. Kolaborasinya dengan Erwin rusni membuat bloker-bloker lawan sulit menebak arah serangan yang dibangun oleh Indonesia, Joni masuk lima Best Spiker dalam kejuaraan tersebut. Tak ketinggalan pula quicker lainnya Affan Priyo yang menyumbang banyak poin. Saat itu permainan Indonesia praktis mengandalkan bola-bola cepat untuk mensiasati kelemahan di tinggi badan.
 
Timnas Indonesia di ajang Kualifikasi Olimpiade 2010, ditangani oleh Hu Xin Yu (Fivb.org)
Serangan bola-bola Open praktis saat itu tidak efektif untuk dilancarkan. Berkali-kali serangan yang dibangun oleh Oen Spike Indonesia saat itu Ayip Rizal dan Riviansyah selalu mentok oleh bloker lawan yang memiliki tinggi badan diatas dua meter.

Penurunan Kualitas

Namun, setelah ada aturan regulasi terkait perusahaan rokok tidak boleh mensponsori turnamen olahraga, gaung kompetisi proliga mulai meredup. Proliga yang biasanya ditayangkan tiap Minggu di TVone/lativi , saat itu hanya ditayangkan saat sudah memasuki babak final four saja.

PBVSI sebagai induk olahraga voli kesulitan untuk mencari pengganti yang sepadan dengan perusahaan rokok Sampoerna Hijau yang jor-joran dalam hal pendanaan. Terbukti makin ke sini proliga pun kian redup dan pudar kesemarakannya. Bahkan di tahun ini 2017, proliga tidak bisa mendapatkan sponsor utama untuk proliga seperti tahun sebelumnya yang disponsori oleh Pertamina. Kini Pertamina hanya menjadi sponsor pendukung.

Entah ada apa dengan PBVSI sekarang, sehingga tidak bisa mengemas dan membujuk sponsor agar bisa mensponsori gelaran proliga. Padahal, dilihat dari antusiasme masyarakat, voli merupakan olahraga nomor dua setelah sepakbola yang paling di gemari di Indonesia.

Hal itu tentu saja mengurangi semarak proliga. Memang para penonton yang dilalui oleh gelaran proliga di setiap serinya masih bisa menyaksikan langsung ke stadion, namun para pecinta voli yang jauh dari kota dan ingin menyaksikan pemain idolanya berlaga tidak akan bisa ikut menyaksikan.

Sebagai penggemar voli, kita tentu iri dengan futsal dan basket, yang setiap minggunya ditayangkan oleh stasiun televisi swasta. Walaupun disisi lain hal tersebut terjadi karena ketua dan pembina olahraga tersebut adalah juragan media di Indonesia yang bisa kapan saja memerintahkan kepada medianya untuk menayangkan olahraga yang mereka bina.

Memang, disisi lain voli adalah olahraga yang tidak dibatasi oleh waktu seperti halnya sepakbola, Basket, dan futsal, yang waktunya bisa ditentukan serta durasi penayangannya bisa diperkirakan apabila sampai perpanjangan waktu pun. Berbeda dengan voli yang permainannya ditentukan oleh poin, yang bisa jadi berlangsung diluar perkiraan durasi yang telah ditentukan.

Walaupun saat ini proliga bisa disaksikan live melalui streaming di youtube tapi tidak semua orang memiliki kuota untuk mengaksesnya, apalagi di dusun terpencil yang akses internetpun tidak ada. Padahal sangat ingin menyaksikannya di layar kaca.

Hal itu jelas menjadi perhitungan televisi swasta untuk menayangkan voli di stasiun tv mereka. Hal inipun terjadi ketika final proliga 2012-2013 (penulis lupa) yang hanya menayangkan final di sektor putri, itupun tidak sampai selesai karena pada saat terjadi long set dan durasi penayangan di tv tersebut sudah selesai, otomatis penonton di layar kaca pun merasa kecewa karena tidak bisa menonton sampai selesai.

Namun bila kita mau berkaca ke negeri tetangga Thailand tentu kita akan sangat kagum dengan media Disana. Masih segar, kemarin turnamen Prince cup yang mempertemukan timnas u-19, ditayangkan oleh stasiun tv SMM. Tidak hanya itu, setiap kegiatan tim nasional mereka pun selelu diikuti perkembangannya, dimulai dari latihan, turnamen, bahkan keseharian para pemainpun sering diliput oleh media Disana.
 
Perang Bintang Proliga antara tim Dyamic dan Spirit
Maka tak heran terus banyak muncul bibit-bibit pemain unggul di Thailand, khususnya di sektor putri. Ketika Thinkaw Pleumjit dan Nootsara Tomkom sudah mulai menua, sudah muncul pengganti yang tak jauh beda kualitasnya seperti Ajcharaporn Kongyot dan Parinya Pankaew.

Tidak jauh berbeda di Filipina, Disana Turnamen Voli sekelas proliga dikemas dengan sangat bagus. Sehingga stasiun tv Diana ABS CBN sport selalu menayangkan liganya dengan kualitas gambar sampai resolusi HD.

Maka bukan tidak mungkin 5-10 tahun ke depan apabila pengelolaan liga kita masih seperti ini, timnas kita bisa makin mundur dan bahkan tersalip oleh Filipina dan Myanmar.

Karena jika kita lihat saat ini, tidak ada setter yang sekelas Loudry ataupun Erwin rusni, atau Quicker Sehandal Joni Sugiatno. Dan libero sehandal Risco Herlambang maupun Fadlan Abdul Karim. Para pemain medio 2000an memang terbentuk menjadi handal karena sering diikutkan mengikuti kejuaraan tingkat Asia bahkan dunia. Hal ini pula yang membentuk karakter mereka. Ditambah lagi saat itu Timnas dilatih oleh pelatih tangan besi Li Qui Jang dan berlanjut ke Hu Xin Yu yang selalu menanamkan kedisiplinan.

Maka tidak heran bila Rudi Tirana dan Riviansyah berujar bahwa pemain-pemain muda saat ini tidak memiliki mental baja dan tehnik yang bagus. Yunior mereka saat ini hanya mengandalkan kekuatan dan asal kencang saja. Beda dengan era mereka yang selalu mengedepankan skill dan taktik. Sedangkap pada era mereka dilatih Mr. Li, pemain berlatih sangat keras hingga sampai tidak sanggup berjalan dan bahkan merangkak untuk berjalan saking kerasnya latihan dari Mr. Li.

Sebagai insan voli, kita tentu berharap ke depannya PBVSI bisa kembali membangkitkan gairah kompetisi proliga kembali. Ataukah jalan di tempat ??

penulis adalah penggemar voli nasional.





TURUN GUNUNG KE PROLIGA, RIVIANSYAH SAMPAI PEGAL - PEGAL

Muhammad Riviansyah Turun gunung ke proliga : juara.net

M Riviansyah kembali masuk dalam deretan pemain pada Proliga 2017. Mantan quicker nasional tersebut bergabung dengan Jakarta BNI Taplus.

Rivi kali terakhir bermain pada Proliga 2010 dengan memperkuat tim Jakarta P2B Sananta.

"Saya diajak bergabung dengan BNI sejak November 2016. Rasanya kangen juga sudah lama tidak berpartisipasi," kata Rivi saat dijumpai JUARA di GOR PSCC Palembang, Sabtu (4/2/2017).

Demi mempersiapkan diri pada turnamen bola voli kasta tertinggi se-Indonesia tersebut, pria berusia 32 tahun ini mengambil cuti selama tiga bulan dari pekerjaannya.

"Saat pertama kali latihan bersama, badan saya langsung pegal-pegal. Saya juga cepat capek. Mungkin karena sudah tua ya ha-ha-ha," aku Rivi.

Selama menjalani latihan, dia menilai bahwa pemain muda BNI memiliki potensi yang bagus bagi Indonesia ke depan.

"Namun, mereka hanya jago teknik. Saat bermain seperti tidak punya perhitungan. Makanya, saya suka gemas dengan pemain muda sekarang," ucap pemain yang pernah mengantar Indonesia meraih medali emas pada SEA Games Thailand 2007 dan SEA Games Laos 2009 ini.

Kembali menghadapi suasana kompetisi Proliga, Rivi merasakan banyak perbedaan. Menurut dia, Proliga tahun ini kurang semarak.

"Seharusnya, bisa dikemas dengan lebih menarik karena antusiasme penonton masih sangat luar biasa. Hal itu yang sering membuat saya kangen dengan Proliga," ujar Rivi.
Rivi juga menyayangkan Proliga menjadi satu-satunya turnamen bagi pemain voli Indonesia. Saat masih bergabung dengan timnas, anak pertama dari dua bersaudara ini sering diikutkan pada kejuaraan asia.

"Karena itu, pemain sekarang kurang mendapat pengalaman bertanding. Seusai Proliga, para pemain akan dipilih mengikuti SEA Games. Tidak ada turnamen lagi," ucap Rivi.

Selama enam tahun terakhir, Rivi fokus bekerja di Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) wilayah Duren Sawit, Jakarta. Namun, dia tidak sepenuhnya meninggalkan cabang olahraga yang telah membesarkan namanya itu.

"Dua tahun terakhir, saya bantu melatih tim Maluku asuhan Victor Laiyan (pelatih voli nasional). Jadi pelatih lebih capek secara pikiran daripada sebagai pemain," tutur Rivi.

"Sebagai pelatih, saya bukan tipe yang galak. Baru saat menangani pemain putra saya lebih tegas. Melatih pemain putra lebih mudah daripada pemain putri karena mereka lebih menurut jika diberikan arahan," ucap Rivi.

Pada laga kedua putaran pertama seri II Proliga, BNI melawan Jakarta Elektrik PLN. Rivi tidak turun karena kondisi tubuhnya sedang tidak fit.

Pertarungan tersebut harus dijalani selama lima set dengan kemenangan diraih Elektrik 25-22, 25-12, 22-25, 25-27, 10-15.


"Mental tim sedang tidak bagus. Padahal, secara kemampuan di atas kertas, lebih unggul BNI," ujar Rivi.

juara.net

MENJADI HIJABERS, WILDA SITI NURFADILAH INGIN TETAP BERPRESTASI

Wilda kini lebih modis

Pemain tim bola voli putri Jakarta Elektrik PLN, Wilda Siti Nur Fadilah punya penampilan baru pada Proliga 2017 dengan mengenakan hijab.

"Saya mulai mengenakan hijab setelah Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat 2016. Sebenarnya niat untuk pakai (hijab) sudah muncul sejak lama, tetapi saya masih takut. Tahun lalu, saya mulai menutupi bagian bawah dengan manset kaki," kata Wilda kepada JUARA di GOR PSCC, Palembang, Minggu (5/2/2017).

Wilda Siti Nurfadillah kini lebih Religius
Sebelum resmi berhijab, pemain berusia 21 tahun ini berkonsultasi dengan kedua orangtuanya. "Orangtua setuju, asal setelah memakai hijab tidak dilepas lagi," ujar Wilda.

Setelah mengenakan hijab, pemain yang menempati posisi quicker ini merasakan sejumlah perbedaan. "Perbedaan yang terasa, saat hendak bermain, barang bawaannya lebih banyak karena sudah tidak pakai celana pendek lagi," aku Wilda.

Wilda mengenakan tambahan manset dan hijab khusus yang bahannya bisa menyerap keringat. Dia mendapatkannya melalui teman sang Ibu.

"Sekarang setelah berjilbab saya ingin membuktikan diri tetap bisa berprestasi. Awalnya sempat merasa tidak nyaman kalau bertanding di GOR yang udaranya panas. Sekarang sudah terbiasa," ucap mahasiswa semester akhir Universitas Bandung Raya ini.

Untuk penampilan sehari-hari, Wilda kerap menjadikan salah satu Instagram sebagai sumber referensi. "Saya suka lihat-lihat Instagram busana muslim supaya tidak bingung saat berpenampilan dengan hijab," tutur Wilda.

Selain sibuk berlaga di Proliga, Wilda merupakan pegawai honorer di Dinas Pemuda dan Olahraga (Disorda) Bandung bagian olahraga masyarakat.


"Ke depan, saya ingin kembali membawa Elektrik memenangi Proliga 2017. Saya juga ingin Indonesia meraih medali emas pada SEA Games Malaysia 2017," ucap Wilda.

juara.net

RENDY FEBRIANT TAMAMILANG, RELA TINGGALKAN KAMPUNG HALAMAN DEMI CITA-CITA

Rendy Tamamilang : juara.net

Rendy Febriant Tamamilang menjadi salah satu andalan tim bola voli putra Surabaya Bhayangkara Samator dalam mengarungi persaingan pada Proliga 2017.

Dalam usia yang tergolong belia, 20 tahun, Rendy sudah banyak mencicipi gelar pada berbagai kompetisi voli. Dia juga berhasil mengantar Samator menjuarai Proliga 2014 dan 2016.

Mimpi Rendy menekuni voli bermula dari Kota Bitung, Sulawesi Utara (Sulut). Pemain yang menempati posisi open spiker itu sudah mengenal olahraga tersebut sejak Sekolah Dasar (SD).

"Saya kenal voli saat kelas 2 SD, ikut-ikutan main saja. Baru mengikuti kompetisi saat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saya bisa bermain voli secara otodidak, berlatih sendiri di dekat rumah," kata Rendy kepada JUARA di Restoran Bumbu Desa, Palembang.

Kepiawaian bermain bola voli didapat secara turun temurun dari sang kakek yang sempat berkiprah hingga tingkat provinsi. Ayah Rendy, Frits Tamamilang juga pernah masuk tim nasional (timnas) untuk tingkat kelompok usia.

"Saat kelas 3 SMP saya berhasil menembus final pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2009. Sejak babak awal saya tidak memberi tahu keikutsertaan saya di sana. Saat masuk final, saya kabari orangtua. Mereka baru tahu kalau ternyata saya bisa bermain voli," tutur Rendy.

Bakat anak kedua dari tiga bersaudara ini mulai dilirik Samator ketika sedang mempersiapkan diri mewakili Sulut pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau.

"Pada 2011, saya melakukan latih tanding bersama Ayip Rizal (pemain timnas). Di sana, saya belajar bagaimana teknik bermain voli yang benar. Setelah itu, saya diajak ke Sentul untuk mulai berlatih bersama Samator," ucap pemain kelahiran 12 Februari 1996 ini.
Meskipun masih berusia 15 tahun, Rendy berani jauh dari orangtua dan keluarga demi mewujudkan mimpi sebagai pemain voli nasional.

"Sebenarnya saya mendapat beasiswa untuk meneruskan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) I Manado. Tetapi, kalau saya di Manado terus, saya tidak akan berkembang. Saya juga tidak mau menyusahkan orang tua. Makanya, saya pilih berkarier voli ke pulau Jawa," aku Rendy.

Rendy juga sempat dibujuk salah satu pelatih PON agar mengurungkan niatnya hijrah ke pulau Jawa. Namun, tekadnya sudah bulat untuk berlatih ke Samator yang bermarkas di Driyorejo, Gresik.

"Orangtua sempat melarang saya pergi bersama Samator. Setelah mengetahui tekad dan cita-cita saya, mereka memberi restu," ucap Rendy.

"Sebelum berangkat, mereka memberi pesan agar saya bisa bertahan di Samator dan melalui berbagai tantangan dengan tegar. Sampai pulau Jawa, saya bertekad untuk jadi pemain sukses," ujar pemilik tinggi badan 191 sentimeter ini.

Selama 1,5 tahun berlatih dengan Samator, Rendy terpilih mengikuti kejuaraan nasional yunior pada 8 Juli 2012 dan berhasil membawa timnya menjadi juara.

Pada Desember 2012, dia terpilih mengikuti Livoli. Saat itu, dia merasa masih canggung dan kaku ketika bermain.

Kekurangan tersebut dia perbaiki ketika mewakili Indonesia pada Asian School Games 2013. Hasilnya, Merah Putih menjadi juara.

"Setelah itu, saya mulai turun pada Proliga 2012 dan masih menjadi cadangan. Saya kemudian terus memperbaiki diri dengan mempelajari teknik pemain idola saya, Bli I Nyoman Rudi Tirtana (mantan pemain timnas)," kata Rendy.

Kemampuan Rendy kian terasah setelah dia berhasil membawa Tanah Air menjuarai Asian School Games 2013.

Setahun kemudian, dia terpilih masuk dalam tim inti Samator dan mampu mengantar Samator naik podium kampiun pada Proliga 2014.

Tak hanya itu, dia dinobatkan sebagai pemain terbaik (Most Valuable Player/MVP) Proliga 2014 ketika masih berusia 18 tahun. Dia menjadi MVP termuda di sektor putra sejak turnamen ini digelar pada 2002.

Keberhasilannya ini membawa dia terpilih masuk dalam timnas SEA Games Singapura 2015. Namun, tim Merah Putih hanya mampu menyumbang medali perunggu.

"Timnas Indonesia, sudah beberapa kali kalah dari Thailand. Kami kurang mengikuti uji coba karena hanya mengandalkan Proliga sebagai satu-satunya kompetisi tertinggi," tutur Rendy.

Pada 2016, Rendy kembali membawa Samator menjuarai Proliga setelah menaklukkan Jakarta BNI Taplus. Dia juga mendapat gelar sebagai server terbaik.

Berbagai prestasi yang telah dia raih membuat Rendy terpilih mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) sejak September 2016 dengan durasi selama tujuh bulan.

"Sebenarnya ada tiga instansi lain yang meminta saya bergabung (AU, AD, AL). Saya pilih kepolisian karena memberi izin untuk saya bertanding voli meskipun saat ini sedang bertugas menjalani pendidikan. Kalau masuk instansi lain agak sulit mendapat izin," tutur Rendy.

"Saat pendidikan, latihan yang saya jalani cukup berat dari 04.00 hingga 23.00 WIB. Latihan yang saya ikuti meliputi menembak, outbond, baris-berbaris, dan pengendalian massa. Meskipun berat, saya menikmati karena ini sudah menjadi cita-cita sejak lama (jadi polisi)," aku Rendy.

Rencananya, pendidikan Rendy di SPN akan berakhir pada Maret 2017. "Tetapi, pendidikan saya tinggal dulu karena sekarang sedang bertanding di Proliga," ujar mahasiswa jurusan manajemen Universitas Yos Sudarso ini.

Rendy bertekad kembali membawa Samator kembali mengukir gelar pada Proliga 2017. Dia juga berencana membeli rumah di Surabaya setelah resmi bekerja di kepolisian."Itu baru rencana. Yang terpenting, saya fokus dulu di Proliga," katanya.

Juara.net



RIVAN NURMULKI BANGGA MENJADI ABDI NEGARA

Rivan Nurmulki - juara.net

Nama Rivan Nurmulki mulai menyita perhatian setelah terpilih sebagai pemain terbaik (Most Valuable Player/MVP) Proliga 2016. Pemain tim bola voli putra Surabaya Bhayangkara Samator ini juga mendapat predikat sebagai spiker terbaik sekaligus sukses mengantar timnya menjadi juara.

Atas prestasinya tersebut, pemain kelahiran Jambi 16 Juli 1995 itu terpilih mengikuti pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN) sejak Juni 2016.

Dia terpilih setelah Samator menjalin kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk melakukan pembinaan. "Rasanya bangga bisa menjadi abdi negara. Saya bisa mengangkat derajat keluarga," kata Rivan kepada JUARA di Restoran Bumbu Desa, Palembang, Minggu (5/2/2017).

Pemain berusia 21 tahun ini harus melalui latihan cukup berat saat menjalani pendidikan SPN dengan durasi selama tiga kali seminggu. "Latihannya cukup berat, tetapi saya bisa melaluinya karena sudah terbiasa latihan fisik bersama Samator," ucap Rivan.

Selain menjalani pendidikan, Rivan juga mengenyam bangku kuliah di Universitas Yos Sudarso jurusan Manajemen untuk menjadi bekal bagi kariernya di kepolisian. "Yang terpenting, saya punya bekal satu gelar karena pendidikan itu penting," ujar Rivan.

Pencapaian Rivan pada olahraga voli terhitung singkat. Dia baru menggeluti voli pada 2012 ketika masih berusia 17 tahun.

"Saat itu, saya bermain di Kapolda Cup. Sifatnya masih coba-coba dan saya belum terlalu mengerti teknik bermain voli. Ketika saya bermain ada pelatih Samator yang melihat permainan saya dan mengajak bergabung," ucap pemain asal Jambi tersebut.

Awalnya, pemilik tinggi badan 194 sentimeter ini sempat ingin pulang saat berlatih dengan Samator karena menu latihan cukup berat. Perlahan-lahan Rivan mulai menyukai belajar dan berlatih voli di Samator, apalagi dia bisa bertemu pemain idolanya, Ayip Rizal.

Bersama Samator, dia berhasil mengantar tim yang bermarkas di Driyorejo Gresik ini meraih gelar juara Proliga pada 2014 dan 2016.

Dia juga pernah memperkuat timnas voli pada SEA Games Singapura 2015, namun Indonesia hanya berhasil meraih medali perunggu.

Tahun ini, dia bertekad membawa Samator kembali naik podium kampiun juga terpilih mewakili Merah Putih pada SEA Games Malaysia 2017.

"Saya berharap persiapan timnas bisa lebih panjang. Pada SEA Games lalu, persiapan kami hanya sebulan sehingga tim kurang memahami satu sama lain. Padahal, stok pemain Indonesia tidak kurang," ucap Rivan.

Rivan saat ini masih akan berjuang bersama Samator pada lanjutan kompetisi Proliga 2017. Hingga putaran pertama seri II, Samator belum pernah kalah dari tiga laga yang sudah dijalani.



 juara.net


KEMBALI KE PROLIGA I NYOMAN RUDI TIRTANA AKUI SAMPAI LUTUT SAKIT-SAKIT

I Nyoman Rudi Tirtana (putih) kembali turun gunung memperkuat Jakarta BNI Taplus

Setelah musim lalu absen, I Nyoman Rudi Tirtana turun berlaga pada kompetisi bola voli tertinggi Indonesia, Proliga 2017. Pemain asal Bali tersebut memperkuat Jakarta BNI Taplus.

"Tim BNI itu seperti rumah buat saya," kata Rudi ketika ditanya kenapa mau kembali memperkuat BNI. Tahun lalu, Rudi tidak bisa ikut Proliga karena masalah perizinan dari kantor tempat dia bekerja. Ayah dua anak tersebut tercatat sebagai karyawan PDAM di Bali sejak 2008.

Skill bermain Rudi masih terasah seperti dulu. Penurunan yang terlihat adalah fisik. Dia pun tidak menampik bahwa sekarang lebih mudah capek setelah melakukan pukulan-pukulan smes.

"Lutut kanan saya sampai bengkak karena kecapekan. Tapi, kalau sudah lihat lapangan voli, gak ada urusan saya sama yang namanya sakit penyakit," ujar pemain 32 tahun tersebut dengan yakin.

Rudi mulai berlatih bersama tim BNI pada Desember tahun lalu. Tidak hanya meninggalkan pekerjaan, dia juga harus berpisah dengan istri dan dua anaknya.

"Istri saya sebenarnya fifty-fifty kasih izin saya main lagi karena anak saya yang perempuan (3 tahun) sangat dekat sama saya. Setiap hari telepon terus, sudah seperti orang pacaran," kata Rudy sambil tertawa.

Rudi mengaku masih akan terus bermain voli, paling tidak hingga usia 35 tahun. Namun, dia tidak berpikir untuk kembali masuk tim nasional.

"Saya mau main sampai umur 35 tahun. Saya punya target, habis itu mau belajar untuk jadi pelatih," aku pemain setinggi 192 cm tersebut.

Rudi punya mimpi melatih tim Bali untuk PON berikutnya bersama I Wayan Windu Segara, yang juga merupakan mantan pemain voli nasional.

Mengenai kiprah BNI pada Proliga 2017, Rudi masih melihat banyak kekurangan dalam timnya. Dari empat kali bertanding, mereka baru meraih satu kemenangan.

"Sebenarnya kalau pemain lokal kami tidak kalah dengan yang lain. Kekurangan utama tim adalah kami masih kurang padu dalam permainan," aku Rudi. Dirinya pun mengakui para pemain muda di timnya masih terlalu mengandalkan tenaga daripada tehnik. Sehingga mudah di blok lawan-lawannya.

juara.net