KISAH ASMARA ATLET VOLI DAN BULUTANGKIS INI BIKIN KAMU BAPER

Ricky Karanda Suwardi dan RIndy Puspaningrum, Pasangan Atlet yang awet dari masa SMA.

Kisah asmara yang terjalin sesama olahragawan sepertinya telah sering dijumpai di kalangan para atlet. Sebut saja pasangan legendaris pebulutangkis peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma dengan Susy Susanti.

Namun, bagaimana jika hubungan tersebut terjalin oleh dua atlet yang berbeda cabang olahraga? Hal inilah yang tengah dirasakan oleh pasangan pebulutangkis ganda putra, Ricky Karanda Suwardi dengan pemain bola voli putri yang kini memperkuat Gresik Petrokimia berpangkat sersan dua, Rindy Puspaningrum.

Kedua insan yang sama-sama aktif di bidang olahraga ini rupanya telah cukup lama menjalin asmara, yakni sejak 27 Juli 2009. Saat itu, Ricky dan Rindy mengikat ikatan kasih di Negeri Gajah Putih, Thailand. saat masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas.
Walaupun sering berjauhan, keduanya selalu menyempatkan diri untuk bertemu setidaknya seminggu sekali.
Ricky merupakan pilar sektor ganda putra Pelatnas Cipayung asal Cirebon yang bersinar bersama partnernya, Angga Pratama. Sementara itu, Rindy tercatat sebagai anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) berpangkat Sersan Dua kelahiran Sumedang, 25 Januari 1993.

Profil Rindy bahkan sempat terpampang di laman tni.mi.ad tahun lalu. Kala itu dirinya tampil apik sebagai pemain bola voli berkiprah di ajang nasional Pro Liga Voli dan memperkuat deretan tim ternama seperti Bank DKI, Popsivo Polwan, Electric PLN, dan beberapa klub besar lainnya.

Dalam menjalani hubungan, keduanya sering terlibat LDR ( Long Distance Relationship), hal ini dikarenakan seringnya Ricky tampil di berbagai kejuaraan Bulutangkis Internasional yang berlangsung hampir setiap Bulan. dan memaksanya untuk berjauhan dengan kekasihnya yang berdinas di Jakarta.

walaupun demikian, baik Ricky maupun Rindy selalu menjaga komunikasi dengan selalu menghubungi satu sama lain. entah itu dengan Video Call maupun sekedar Whats App. selalu mendukung satu sama lain dan menyemangati pasangan ketika bertanding adalah hal yang selalu mereka lakukan untuk menjaga hubungan tetap awet.


Dalam akun Instagram pribadi Ricky, @rickykarandasuwardi, keduanya tampak tak canggung memamerkan kedekatannya dalam berbagai suasana. Ricky juga tak segan mem-posting artikel-artikel yang memuat profil kekasih tercintanya tersebut.
Keduanya selalu tampak mesra saat berduaan
Sebagai pasangan yang memiliki banyak penggemar lawan jenis, tentu keduanya harus selalu saling percaya satu sama lain. agar terhindar dari rasa curiga dan cemburu.

Rindy mengatakan,  dirinya  sudah  merasa  cukup  beruntung  jika  bisa  bertemu  dengan  Ricky  seminggu sekali. ’’Biasanya ketemu kalau sama­sama tidak ada kompetisi dan bertepatan dengan Minggu,’’ ujar mojang kelahiran Sumedang itu.

Karena itu, keduanya benar­-benar memanfaatkan waktu tersebut dengan nge­date ke tempat­ tempat yang familier dengan mereka. Terutama bila sama­sama berada di Jakarta. Kebetulan Rindy maupun Ricky sama­sama doyan makan. Mereka bakal mengunjungi warung sate  taichan  di  kawasan  Senayan.  

Sate taichan adalah sate ayam yang dibakar hanya dengan menggunakan perasan jeruk nipis dengan sensasi pedas. Rindy ingat, kali pertama dirinya menikmati sate itu ketika diajak senior asramanya tiga tahun silam. Oleh dara 23 tahun lalu tersebut, sate taichan dikenalkan kepada Ricky. Alhasil, Ricky pun langsung tergila­gila dengan kuliner tersebut. ’’Dia sampai nambah tiga porsi,’’ tutur Rindy, lantas tergelak.

Kini  sate  taichan  hampir  selalu  menjadi  kuliner  wajib  bagi  sejoli  yang  berpacaran  sejak  Juli 2009 itu. 

semoga saja Ricky dan Rindy bisa menjadi pasangan yang langgeng dan bahagia hingga memiliki anak cucu nanti. mari kita doakan bersama.

TERNYATA KEPUTUSAN PELATIH MENGGANTI PEMAIN KARENA HAL INI

Keputusan pelatih voli dalam mengganti pemain tidak semata-mata karena insting, namun ada faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan. hal ini bisa dia lihat dari VSI ( volleyball Information System).

Di tengah gemuruh sorak penonton pada babak empat besar Proliga 2017 di GOR Sritex Arena, Solo, Sabtu (8/4), Adit dan rekan-rekannya sibuk memasukkan data statistik permainan di laptop. Mereka memasukkan kode-kode ke perangkat lunak setiap pemain melakukan spike, servis ace, blok, dan meraih skor.

“Ini adalah VIS, volleyball information system,” kata Adit, menjelaskan tentang perangkat lunak di laptop itu.

VIS telah lama digunakan Federasi Bola Voli Internasional (FIVB) untuk menghitung statistik setiap pemain voli dalam sebuah pertandingan. Data yang didapat di antaranya berapa kali pemain melakukan percobaan spike dan berapa banyak pemain menghasilkan angka. Data itu dikumpulkan dalam basis data Proliga.

Berikut contoh hasil penggunaan VIS yang digunakan oleh federasi voli dunia FIVB >> http://www.fivb.org/en/volleyball/Documents/FIVB_MWCH2010_Players_Rankings.pdf

Anderson Marbun dari bidang VIS Proliga mengatakan, setiap tim di Proliga akan diberikan data ini jika meminta. Sejumlah pemain terkadang juga meminta untuk mengevaluasi permainan mereka.

Asisten pelatih Jakarta Elektrik PLN, Abdul Munif, mengatakan, data statistik pemain itu penting. Namun, selama ini timnya lebih banyak menggunakan pendekatan pengamatan pelatih. “Kalau tim lain, mungkin berbeda,” katanya.

Penggunaan statistik sangat intensif, terutama di negara yang olahraganya maju, seperti Amerika Serikat. Major League Baseball (MLB), misalnya, menggunakan statistik sabermetric yang cukup kompleks.

Penggunaan statistik dalam sepak bola pun sudah lazim. Statistik pemain dan tim, seperti berapa kali tendangan, menggiring, tekel, sundulan, tendangan ke gawang, umpan, dan berapa penguasaan bola, sudah lazim dipakai saat ini. Dalam bentuk paling sederhana, data statistik sepak bola biasanya hanya berapa kali seorang pemain tampil dan mencetak gol.

Masih minim

Data statistik olahraga tidak hanya untuk keperluan analisis pemain dan strategi permainan, tetapi sudah berkembang menjadi industri tersendiri. Sayangnya, penggunaan dan ketersediaan statistik untuk analisis atau sumber data pemain di Indonesia masih minim. Bahkan, untuk olahraga populer, seperti sepak bola, data pemain Indonesia sulit ditemukan. Untuk mencari data statistik pemain yang pernah memperkuat timnas saja sulit, apalagi mencari data para pemain muda.
Aplikasi VSI yang sudah digunakan di banyak negara maju. hal ini bermanfaat untuk melihat progres pemain saat berlaga, dari jumlah blo, spike, set, dan passing yang dilakukan selama permainan berlangsung

Dalam pertemuan antara pelatih tim nasional Indonesia Luis Milla dan jajaran redaksi sejumlah media di Karawaci, beberapa waktu lalu, Direktur Media dan Hubungan Internasional PSSI Hanif Thamrin mengatakan, basis data pemain memang dibutuhkan. Untuk itu, PSSI akan melakukan perbaikan sehingga data dan statistik pemain bisa tersedia guna membantu pelatih menganalisis permainan atau memilih pemain.

Di kompetisi sepak bola usia muda, Liga Kompas Gramedia (LKG) Panasonic U-14 telah menekankan pentingnya penggunaan data statistik pemain dalam menganalisis para pemain yang tampil di liga itu. Bekerja sama dengan Labola, LKG mencatat statistik yang ditorehkan pemain dalam setiap pertandingan.

Statistik itu lalu digunakan, salah satunya, untuk memilih pemain yang akan mewakili LKG tampil di Piala Gothia Cup, di Gothenburg, Swedia, yang sering disebut sebagai piala dunia anak-anak. Keputusan tim pemandu bakat juga didasarkan pada catatan statistik penampilan pemain yang dikumpulkan selama kompetisi berlangsung.

LKG diikuti 16 tim SSB dan telah berlangsung selama tujuh musim. Jika satu tim katakanlah yang reguler bermain 18 orang, selama satu musim akan didapatkan data sekitar 288 pemain muda. Tentu ini menjadi kekayaan yang luar biasa jika bisa dimanfaatkan bagi pembinaan usia muda.

Direktur Proliga Hanny S Surkatty menekankan pentingnya data statistik untuk menganalisis pemain sehingga pihaknya selama beberapa musim telah menerapkan VIS. Data statistik itu dipakai untuk pemilihan pemain terbaik Proliga.

Menurut Hanny, data VIS dari Proliga ini dapat digunakan untuk memilih pemain tim nasional voli Indonesia. Sejauh ini telah terseleksi hampir 28 pemain dari Proliga.

“Di negara yang maju olahraganya, statistik ini sangat penting. Seorang pelatih akan menganalisis permainan, menerapkan strategi, menganalisis lawan, memilih pemain tim nasional, salah satunya, berdasarkan statistik. Jadi, tidak lagi hanya berdasarkan insting saja,” kata Hanny.

Sumber : harian Kompas

PEMANASAN JELANG DUEL SESUNGGUHNYA

Partai Jakarta Elektrik melawan Jakarta Pertamina pada Final Four Bandung menjadi ajang pemanasan kedua tim sebelum bertemu di Grand Final Yogyakarta nanti

Putaran final kejuaraan bola voli Proliga 2017 di GOR C-tra Arena Bandung, Jawa Barat, Minggu (16/4), ditutup dengan laga atraktif. Setelah penampilan buruk putra Surabaya Bhayangkara Samator dan Palembang Bank Sumselbabel, gairah penonton kembali terpompa oleh laga tim putri Jakarta Elektrik PLN melawan Jakarta Pertamina Energi.

Siapa yang tak ingin menonton kepiawaian Elektrik PLN di lapangan? Apalagi lawannya tim kuat Pertamina Energi. Meski usia Pertamina lebih muda dari Elektrik di Proliga, tim itu tak bisa diremehkan.

Putri Pertamina Energi yang mengawali debut di Proliga pada 2013 langsung memuncaki kejuaraan berhadiah ratusan juta rupiah itu pada 2014. Dua tahun berikutnya, tim itu membayangi Elektrik PLN di tiga besar.

Sementara kekuatan putri Elektrik PLN asuhan pelatih China Tien Mei di Proliga juga tidak diragukan lagi. Tim ini lima kali meraih gelar juara Proliga (2004, 2009, 2011, 2015, dan 2016) dan empat kali berada di posisi runner-up (2005, 2008, 2010, dan 2012).

Musim ini Elektrik PLN dan Pertamina Energi masih menjadi tim kuat. Keduanya meraih tiket ke grand final di Yogyakarta, 23 April mendatang, setelah menyelesaikan laga empat besar di Bandung. Dua tim lain, PGN Popsivo Polwan dan Gresik Petrokimia, tersingkir di laga empat besar itu.

Pada laga Elektrik PLN melawan Pertamina Energi, Minggu malam, kedua tim beradu kekuatan dan strategi. Laga ini sekaligus menjadi ajang bagi mereka untuk menjajaki kelemahan lawan sebagai persiapan menjelang laga di grand final.

“Saya tidak memberi target anak-anak untuk menang. Bermain santai dan lebih fokus untuk ke final saja. Pertemuan ini bagi saya untuk penjajakan,” kata Risco Herlambang, Pelatih Pertamina Energi.

Begitu pemain kedua tim turun ke lapangan, penonton gegap gempita. Tribune berkapasitas 3.000 penonton penuh. Dengan tiket seharga Rp 50.000, penonton yang tidak bisa menyaksikan laga puncak keduanya di Yogyakarta cukup terhibur menonton laga itu.

“Loh saya ini malah bisa lebih dulu nonton mereka main. Jadi tidak perlu ke Yogya enggak apa-apalah,” kata Cahyadi, warga Sukaluyu, Bandung, penggemar Pertamina Energi. Ia mengaku tidak punya ongkos untuk ke Yogyakarta.

Sepanjang pertandingan, Cahyadi berdiri di tribune paling depan dan berteriak menyebut nama-nama pemain Pertamina setiap kali mereka memainkan bola. “Iya. Mutiara. kasih bola itu ke Anna. Anna, Anna kasih tipuan. ya,” teriak Cahyadi, saat Tri Retno Mutiara, setter (pengumpan) Pertamina, mengarahkan bola kepada rekannya, Anna Stepaniuk, spiker asal Ukraina.

Stepaniuk banyak menghasilkan poin bagi Pertamina dengan tipuan-tipuan di depan net. Alih-alih memberi smes keras, Stepaniuk menerobos blocker Elektrik PLN dengan bola pelan yang sedikit dilambungkan, melampaui tangan-tangan Aprilia Manganang, Jose Maria, dan Stazler Lindsay dari PLN yang mengeblok di depan net.

Penonton heboh, pemain pun ikut heboh. Di tengah lapangan, pemain kedua tim tampak lebih ekspresif meluapkan rasa gembira setiap kali mereka mampu menerobos dan membuat mati kubu lawan.

Sementara Tien Mei hanya duduk diam, mengawasi pertandingan. Adapun Risco tampak tersenyum acap kali timnya meraih poin. Laga malam itu dimenangi Elektrik PLN 3-1 (26-24, 22- 25, 25-21, 25-22).


Lalu, kira-kira siapa yang akan menang di laga final nanti? “Ah tidak ada jaminan mereka tetap akan menang,” kata Risco.

Sumber : Harian Kompas

RISSING STAR SHELLA BERNADETHA, DARI SEKEDAR PENONTON KINI MENJADI ANDALAN ELEKTRIK PLN


Shella Bernadetha 

Di antara barisan pemain yang bergabung di Jakarta Elektrik PLN, Shella Bernadetha merupakan pemain termuda. Namun, dia sudah dipercaya pelatih Tien Mei sebagai starter.

Meski paling muda, pemain yang menempati posisi quicker ini mampu mengimbangi permainan Aprilia Manganang dkk. Sepanjang Proliga 2017 digelar, dia kerap menyumbang poin untuk timnya.

Pada hari terakhir final four, Minggu (16/4/2017), Elektrik keluar sebagai juara. Sebelumnya Elektrik menjadi yang terbaik pada putaran pertama.

"Senang dan bangga di tahun pertama saya bergabung dengan Elektrik bisa membawa tim jadi juara final four," kata Shella  di GOR C-Tra Arena, Bandung.

Dua tahun lalu, perempuan kelahiran Cimahi, 31 Oktober 1999 ini adalah seorang penggemar voli yang menyaksikan Elektrik saat bertanding di Proliga.

Shella masih menyimpan kenangan saat dia berfoto dengan sejumlah pemain Elektrik yakni Wilda, Dian Wijayanti, dan Berllian Marsheilla. Shella kini sudah bermain dengan tiga orang tersebut.

Siswi kelas 2 SMA Pasundan ini mulai mengenal voli kelas 6 SD saat mengikuti mata pelajaran olahraga. "Olahraga voli jadi olahraga favorit di SD Barosman 4 Cimahi," ujar Shella.

"Awalnya, tangan saya sakit-sakit saat belajar passing. Lama kelamaan saya mulai menikmati," ucap Shella.

Lolos Seleksi di Jakarta ELektrik PLN 

Jalan Shella bergabung dengan Elektrik bermula pada Proliga 2015. Saat itu, dia diajak salah satu pebola voli Elektrik, Chika Swinerlin Pratiwi menonton Elektrik saat berlaga di Bandung.

Shella Bernadetha, berhasil mewujudkan mimpinya bermain bersama idolanya Wilda Siti Nurfadillah
"Kak Chika adalah saudara saya. Setelah menonton pertandingan, Kak Chika mengajak saya berfoto dengan sejumlah pemain Elektrik supaya bisa ketularan jadi pemain ha-ha-ha," kata sulung dari dua bersaudara ini.

Pada 2016, Shella mengikuti seleksi masuk PLN. Namun, tidak berhasil. Meski gagal, Shella tak putus asa. Dia mencoba lagi tahun berikutnya dan dinyatakan lolos.

"Rasanya seperti mimpi bergabung dengan Elektrik. Apalagi, saya bisa bermain dengan pemain idola saya Teh Kiwil (sapaan akrab Wilda Siti Nurfadilah)," ucap Shella sambil tersenyum.

"Teman-teman dan orangtua mendukung ketika saya masuk Elektrik. Mereka kagum karena saya bisa langsung mengikuti Proliga, padahal saya belum pernah ikut kejurda, kejurnas atau PON," tutur Shella.

Selama menjalani latihan untuk Proliga, Shella mengaku banyak mencuri ilmu dari Wilda."Kalau Kak Tien Mei (pelatih Elektrik) memberi masukan kepada Teh Wilda, saya diam-diam mendengarkan untuk menjadi masukan bagi penampilan saya," aku Shella.

Tien Mei juga memompa semangat putri dari pasangan Regies Onan dan Lely ini agar tidak minder saat bermain dengan pemain lain yang lebih senior.

mundurnya Yolla yuliana dari Elektrik juga membuat Shella sering dipasang, hal ini karena posisi keduanya sama yaitu seorang quicker. hal ini karena quicker yang tersisa selepas Yolla mundur hanya tinggal Wilda dan Shella. otomatis pelatih tien mei pun melakukan rotasi dalam setiap permainannya, agar menghindari kelelahan dan cedera.

"Kak Mei bilang saya jangan takut-takut saat bermain. Kalau bisa menyumbang poin harus berteriak biar lapangan tidak sepi ha-ha-ha," kata remaja berusia 17 tahun ini.

Bermain di Proliga membuat Shella harus izin tidak mengikuti pelajaran dari sekolahnya."Beruntung Kepala Sekolah menyukai olahraga, jadi Shella dipermudah saat izin mengikuti Proliga," ucap Shella.

Ke depan, Shella memiliki mimpi memperkuat timnas Indonesia pada ajang SEA Games.

Kini dia fokus mempersiapkan diri untuk tampil pada final Proliga 2017 melawan Jakarta Pertamina Energi. Laga puncak akan digelar Minggu (23/4/2017) di GOR Amongrogo, Yogyakarta.

Juara.net

SAMATOR GAGAL KE FINAL, INI ALASANNYA

Mahfud Nurcahyadi dkk, gagal melangkah ke Grand Final

Tim voli putra Surabaya Bhayangkara Samator gagal memijak babak final setelah kalah dari Jakarta BNI Taplus pada final four Proliga Seri II, 14-16 April.

Samator ditekuk BNI dengan 1-3 (22-25, 27-25, 24-26, 22-25) di GOR C-Tra Arena, Bandung, Sabtu (15/4/2017). Sehari sebelumnya, Samator ditumbangkan Jakarta Pertamina Energi dengan skor 1-3. 

Kekalahan ini membuat Samator dipastikan gagal mempertahankan gelar juara mereka di ajang Proliga. Nasib Samator sudah di ujung tanduk setelah kalah 1-3 (23-25, 22-25, 25-20, 19-25) dari Jakarta Pertamina Energi, Jumat (14/4/2017). 

"Permainan anak-anak hari ini kurang gereget. Receive dan spike mereka kurang bagus. Secara keseluruhan penampilan Samator tahun ini memang kurang bagus. Di sisi lain BNI hari ini bermain luar biasa. Anak-anak hanya kurang sabar di lapangan," ujar pelatih Samator,  Ibarsjah Djanu Tjahyono.

Dengan kegagalan Samator ini, final di nomor putra dipastikan mempertemukan Jakarta Pertamina Energi melawan Palembang Bank Sumsel Babel.

Sementara itu, pelatih BNI Taplus, Loudry Mapaitella yang menggantikan Tedy Hidayat, mengaku kemenangan diraih timnya berkat tampil tanpa beban. "Pertandingan ini bagi kedua tim nothing to lose. Samator beban harus menang. Kami optimalkan permainan. Setiap kemenangan ada bonus," ujar Loudry. 


"Keuntungan bagi kami karena samator bermain tidak optimal. Kejutan, tim sekelas Surabaya Bhayangkara Samator tertekan ketika dikejar skor," imbuh Loudry.  

Pencapaian Samator tahun ini menurun jika dibandingkan pada Proliga 2016. Kala itu, mereka berhasil meraih titel juara setelah menumbangkan Jakarta Pertamina Energi dengan 3-0.

"Kami berharap bisa menang pada pertandingan ini agar besok (Minggu) masih ada kesempatan lolos ke final. namun apa daya, Permainan pemain kurang greget. Mereka banyak melakukan kesalahan spike dan receive," kata pelatih Samator, Ibarsyah Djanu Tjahyono seusai pertandingan.

"Tahun ini permainan Samator kurang bagus. Tahun depan, kami harus lebih baik lagi. Kami akan banyak melakukan evaluasi, terutama dari pihak manajemen," ujar Ibarsyah.

Absennya beberapa pemain andalan mereka seperti Mirza, dan Quicker I Putu Randu, juga membuat kekuatan samator terkikis. hal ini lantaran penampilan para pemain muda mereka yang tidak konsisten.

Ibarsyah mengakui bahwa penampilan BNI bagus. "Kontribusi pemain asing mereka cukup besar, sedangkan pemain asing kami tidak terlalu signifikan pengaruhnya," tutur Ibarsyah.

Selain itu, performa tosser Samator, Nizar Zulfikar juga tidak maksimal di Bandung. Nizar baru saja mengikuti pendidikan Sekolah Inspektur Polisi Sumber Sarjana (SIPSS) di Jakarta.

"Nizar belum berlatih lagi dengan tim dan langsung bermain di sini. Dia terpaksa diturunkan karena tosser kedua tidak maksimal. Tidak ada tosser yang mumpuni membuat tim kurang solid," aku Ibarsyah.

Pada Seri I final four Proliga di Solo pekan lalu, Samator menelan dua kekalahan masing-masing dengan 0-3 dari Pertamina, dan Bank Sumsel.

Pemenang final four Proliga, akan mendapat hadiah Rp 40 juta. Peringkat ketiga dan keempat masing-masing memperoleh Rp 75 juta dan Rp 50 juta. Hadiah tersebut diberikan pada Minggu (16/4/2017).

Adapun hadiah bagi juara pertama dan kedua Proliga 2017 adalah Rp 200 juta serta Rp 100 juta baru diberikan setelah pertandingan final, Minggu (23/4/2017) di GOR Amongrogo, Yogyakarta.

Sumber : Juara.net

PERTAMINA OPTIMIS JUARA, ELEKTRIK MASIH PUNYA KELEMAHAN

Jakarta Pertamina Energi optimis bisa kalahkan elektrik di laga pamungkas


Tim putri Jakarta Pertamina Energi berambisi membalas kekalahan dari Jakarta Elektrik PLN pada grand final Proliga 2017. Kedua tim dijadwalkan bertemu di Yogyakarta, Sabtu (23/4/2017).

Anak asuh Risco Herlambang dikalahkan Jakarta Elektrik tiga kali selama Proliga 2017. Jakarta Energi hanya sekali menang (3-2) pada seri kelima. 

"Hasil itu tidak bisa dan tidak kami gunakan sebagai acuan. Saya tidak menyesal tadi kami kalah. Yang penting final. Saya yakin kami bisa rebut titel dari Jakarta Elektrik," tutur Risco.

Dia menuturkan, Jakarta Energi tidak menargetkan kemenangan pada pertandingan di Kota Kembang. Risco memilih ingin belajar kekurangan dan kelemahan tim asuhannya, sekaligus mempelajari Jakarta Elektrik.

"Laga tadi normatif dan tidak berarti apa-apa. Semoga kami punya resep untuk kalahkan mereka. Pokoknya kami kejar pada 23 April," ungkapnya.

Risco menuturkan, pihaknya sebenarnya sudah menemukan kunci untuk berjaya. Taktik itu adalah menghentikan kapten Jakarta Elektrik Aprilia S Manganang.

"Kekuatan Jakarta Elektik akan berkurang signifikan tanpa April. Saya juga lihat dia jauh lebih baik ketimbang pemain asing mereka di Proliga 2017," pungkas Risco.

PR Jakarta ELektrik PLN

Jakarta Elektrik PLN punya pekerjaan rumah untuk grand final Proliga 2017. Mereka berharap bisa menyelesaikannya demi menjadi juara untuk kali ketiga secara beruntun, atau titel keempat keseluruhan.

Jakarta Elektrik PLN masih punya banyak PR untuk laga final nanti
Pasukan Tien Mei akan menghadapi Jakarta Pertamina Energi di Yogyakarta, Sabtu (23/4/2017), memperebutkan titel Proliga 2017.

"Masih ada PR. Terutama menyangkut pemain asing. Kemampuan pass mereka masih buruk. Kami coba perbaiki pada jeda sebelum final," tutur asisten pelatih Jakarta Elektrik Abdul Munif.

Pemain asing Jakarta Elektrik PLN adalah Lindsay Stalzer asal Amerika Serikat dan Maria Jose dari Venezuela. Lindsay baru pertama kali bermain di Indonesia. Sementara Maria pernah bermain bersama Berlian Marsheila dan kawan-kawan pada Proliga 2015.

Meski masih memiliki kekurangan, kedua pemain asing membantu Jakarta Elektrik meraih kemenangan pada partai penutup putaran kedua final four. Mereka berjaya 3-1 (26-24, 22-25, 25-21, 25-22) di GOR C'Tra Arena, Bandung, Jawa Barat, Minggu (16/4/2017).

Hasil ini menjaga rekor 100 persen Jakarta Elektrik PLN di final four Proliga 2017. "Kami bersyukur bisa menang. Strategi kami tadi berjalan. Tadi kami tampil sabar dan menekan agar quicker lawan tidak berfungsi," pungkas Abdul Munif.

INI DIA PERAIH PENGHARGAAN INDIVIDUAL DI PROLIGA 2017


Peraih Penghargaan Proliga 2017 di sektor Putri

Kompetisi Proliga 2017 sudah menyelesaikan putaran final four di GOR C-Tra Arena, Bandung, Minggu (16/4/2017).

Pada bagian putra, Jakarta Pertamina Energi keluar sebagai juara final four. Surabaya Bhayangkara Samator dan Jakarta BNI Taplus masing-masing berada di peringkat ketiga dan keempat.

Dari bagian putri, Jakarta Elektrik PLN menjadi yang terbaik pada final four. Adapun peringkat ketiga dan keempat diraih oleh Jakarta PGN Popsivo Polwan, dan Gresik Petrokimia.

Juara final four berhak atas uang pembinaan sebesar Rp 40 juta. Peringkat ketiga mendapat hadiah senilai Rp 75 juta, sedangkan peringkat keempat berhak atas uang tunai sebesar Rp 50 juta.

Panitia Proliga juga memberikan penghargaan individu terbaik yang terbagi dalam enam kategori yakni setter terbaik, spiker terbaik, top scorer terbaik, server terbaik, libero terbaik, dan blocker terbaik.

Para pemenang kategori individu ini masing-masing berhak mendapatkan hadiah uang senilai Rp 5 juta.

Kategori pemain terbaik (Most Valuable Player/MVP) baru akan diumumkan setelah partai final digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (23/4/2017).
Peraih Penghargaan Proliga 2017 di sektor Putera
Laga puncak putri akan mempertemukan Elektrik dan Pertamina. Pada bagian putra, Pertamina akan berhadapan dengan Palembang Bank SumselBabel.

Berikut daftar penerima penghargaan individu setelah final four Proliga 2017.

Putra

Topskor terbaik: Alexander Minic (Jakarta Pertamina Energi)

Spiker terbaik  :  Agung Seganti (Jakarta Pertamina Energi)

Bloker terbaik  :  Gunawan Saputra (Jakarta Pertamina Energi)

Server terbaik : Carlos Araujo (Palembang Bank SumselBabel)

Setter terbaik  : Nizar Zulfikar (Surabaya Bhayangkara Samator)

Libero terbaik  :  Indra Harahap (Jakarta BNI Taplus)

Putri

Topskor terbaik  :   Aprilia Manganang (Jakarta Elektrik PLN)

Spiker terbaik    : Jessica Walker (Jakarta PGN Popsivo Polwan)

Bloker terbaik    : Rika Dwi Latri (Gresik Petrokimia)

Server terbaik  :  Regan Hood Scott (Jakarta Pertamina Energi)

Setter terbaik  : Yolanna Betha  (Jakarta Elektrik PLN)

Libero terbaik :  Berllian Masheilla (Jakarta Elektrik PLN).

sumber : Juara.net

TAMPIL SEMPURNA, ELEKTRIK PLN JUARAI FINAL FOUR PROLIGA 2017

Tim Putri Elektrik PLN berhasil raih juara putaran final four putri

Tim putri Jakarta Elektrik PLN melakukan sapu bersih enam pertandingan pada  final four Proliga 2017. Hasil ini mengantar mereka sebagai juara pada ajang final four di Bandung.

Pada pertandingan terakhir mereka yang berlangsung di GOR C-Tra Arena, Bandung, Minggu (16/4/2017), Elektrik menumbangkan Jakarta Pertamina Energi 3-1 (26-24, 22-25, 25-21, 25-22).

"Alhamdulillah kami bisa mengambil poin penuh selama  final four. Kunci kemenangan kami adalah bermain sabar dan bisa mengatasi quicker Pertamina," kata asisten pelatih Elektrik, Abdul Munif.

Atas keberhasilan sebagai juara  final four, Elektrik berhak atas hadiah uang pembinaan sebesar Rp 40 Juta. Pada putaran pertama, Elektrik menjadi yang terbaik dan mendapat bonus Rp 15 juta.

Elektrik selanjutnya akan mempersiapkan diri untuk menghadapi babak final yang akan digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (23/4/2017) dengan kembali menghadapi Pertamina.

"Dalam seminggu ini, kami akan melakukan perbaikan, terutama dalam hal passing," ujar Abdul.

Kapten Elektrik, Aprilia Manganang bersyukur Elektrik mampu melakukan sapu bersih pada  final four yang terbagi dalam dua seri yakni di Solo dan Bandung.

"Kami menargetkan menang karena mengincar bonus. Kami sudah mempelajari kelebihan dan kekurangan Pertamina. Meski menang, ini bukan akhir dari segalanya. Jangan dulu berbesar hati," tutur Aprilia.

Sementara itu, pemain Elektrik lainnyam Susanti Martalia mengatakan bahwa tim akan menjaga kondisi fisik menghadapi laga puncak.

"Selama final four, kami harus menjalani pertandingan selama tiga hari berturut-turut yang cukup menguras tenaga. Yang terpenting, kami menjaga kekompakan," ucap Susanti.

sumber : kompas.com